Selasa, Februari 15

Manfaat Mengapresiasi Karya Sastra

0

Karya sastra sebagai salah satu karya budaya merupakan tanggapan (respons) sastrawan terhadap lingkungannya. Kemudian, sastrawan mewujudkannya secara estetis dan memiliki nilai keindahan. Oleh karena itu, kelahiran karya sastra selalu memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Kandungan nilai suatu karya sastra merupakan unsur yang esensial dari karya itu secara keseluruhan. Telaah yang mendalam terhadap suatu karya sastra, bukan saja akan memberi pengertian tentang latar belakang budaya pengarangnya melainkan juga mengungkapkan ide-ide dan gagasan sastrawannya dalam menanggapi situasi yang ada di sekelilingnya.

Kegiatan apresiasi dan kajian karya sastra pun menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah. Pembelajaran sastra di sekolah lebih banyak menyangkut apresiasi sastra.

Rahmanto (1998: 16-24) mengemukakan bahwa pembelajaran sastra setidaknya membantu siswa dalam empat aspek, yakni membantu meningkatkan keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak atau karakter, sebab karya sastra memiliki fungsi sebagai media etika (akhlak/ moral), estetika (kepekaan terhadap seni dan keindahan), dan didaktika (pendidikan).

Membantu Meningkatkan Keterampilan Berbahasa

Keterampilan berbahasa meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan mempelajari sastra, kamu dapat melatih kemampuan menyimak melalui kegiatan mendengarkan pembacaan suatu karya sastra. Kamu dapat melatih kemampuan berbicara melalui kegiatan bermain peran atau menanggapi isi cerpen/ novel.

Kamu dapat melatih kemampuan membaca dengan membacakan puisi atau membaca cerpen/ novel. Kamu juga dapat melatih kemampuan menulis melalui kegiatan menulis puisi, cerpen, atau naskah drama. Dengan begitu, belajar sastra sangat membantu meningkatkan keterampilan berbahasa.

Meningkatkan Pengetahuan Budaya

Kaitan antara sastra dan budaya sangat erat. Sastra adalah bagian dari kebudayaan. Pada sisi lain sastra menjadi sarana untuk membentuk nilai-nilai budaya masyarakat.

Seperti halnya nilai moral, nilai-nilai budaya pun memuat konsep-konsep tentang segala sesuatu yang dipandang baik dan berharga di dalam kehidupan. Nilai budaya ini sifatnya khusus, sebab dibatasi oleh suku bangsa dan bangsa. Artinya, sesuatu yang dianggap baik oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa tertentu belum tentu dipandang baik oleh yang lain.

Menurut Koentjoroningrat, unsur-unsur budaya terdiri atas: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem teknologi dan peralatan., bahasa, kesenian, dan sistem mata pencaharian hidup.

Karya sastra biasanya memuat unsur-unsur tersebut sehingga kita dapat mengetahui budaya suatu masyarakat. Misalnya, kita dapat mengetahui budaya Suku Dayak di Kalimantan melalui novel Upacara dan Api Awan Asap karya Korie Layun Rampan, budaya Jawa dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam, budaya Bali dalam Sukreni Gadis Bali karya AA. Pandji Tisna, budaya Minangkabau dalam novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli atau dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Dan masih banyak lagi budaya masyarakat kita yang digambarkan dalam karya sastra.

Selain budaya Indonesia, kita juga dapat memeroleh pengetahuan mengenai budaya luar. Beberapa karya sastra Indonesia memiliki latar luar negeri yang sekaligus memberikan gambaran tentang budaya masyarakatnya. Misalnya, novel Grotta Azzura karya Sutan Takdir Alisjahbana yang mengambil setting cerita di Italia, novel La Barka karya Nh. Dini berlatar di Paris, Perancis.

Mengembangkan Cipta dan Rasa

Mengapresiasi karya sastra dapat mengembangkan cipta dan rasa yang barkaitan dengan kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, sosial, dan religius.

Panca indra (penglihatan, pencecapan, pendengaran, dan peraba) kita dapat dilatih untuk mampu mengenali berbagai pengertian dan kepekaan untuk membedakan satu hal dengan hal lainnya. Misalnya, membedakan kuning dengan keemasan, bising dengan menggemparkan.

Selain itu, sastra juga sering dikaitkan dengan kepekaan rasa dan emosi. Sehingga muncul ungkapan yang mengatakan ”Belajar matematika untuk mengasah otak (intelegensi), sedangkan belajar sastra untuk mengasah perasaan.”

Menunjang Pembentukan Watak atau Karakter

Mengapresiasi karya sastra dapat memberikan bantuan dalam usaha mengem­bangkan berbagai kualitas kepribadian kita. Kepribadian tersebut meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan (Rahmanto, 1988: 25).

Kita dapat memahami berbagai karakter tokoh cerita. Kita juga dapat menentukan karakter yang baik dan buruk menurut ukuran-ukuran yang kita pahami. Tidak menutup kemungkinan karakter tersebut akan memengaruhi kita.

Berkaitan dengan manfaat mempelajari sastra, Jakob Sumardjo (1984: 16) menge­mukakan bahwa membaca karya sastra bermanfaat untuk mendayagunakan pengetahuan, memperkaya rohani, menjadi manusia berbudaya, dan belajar mengung­kapkan sesuatu dengan baik.

Pembelajaran sastra pun diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa. Dalam hal ini, sebaiknya siswa tidak hanya memeroleh pengetahuan tentang sastra, tetapi yang paling penting adalah pengalaman dalam mengapresiasi dan mencipta karya sastra.

Dalam mengapresiasi sastra siswa biasanya dilibatkan ke dalam pengalaman agar siswa mengalami dunia fisik dan dunia sosial, agar mampu meng­apresiasi nilai-nilai, serta agar memahami dan meng­apresiasi yang hubungannya sebagai makhluk dengan khaliknya.

0 komentar:

Poskan Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com