FIKSI: SEBUAH TEKS PROSA NARATIF



1.FIKSI: PENGERTIAN DAN HAKIKAT

Karya Imajiner dan Estis. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative teks) atau wacana naratif (narrative discource) (dalam pendekatan struktural dan semio tik). Astilah fiksi dalam pengertian ini adalah cerita rekaan atau cerita khayalan. Fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah (Abrams, 1981: 61).karya fiksi menyaran pada suatu karya yang menceritakab sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan dan tidak sebenarnya. Istilah fiksi sering digunakan dalam pertentangan dengan realitas-sesuatu yang benar ada dan terjadi pada dunia nyata yang bersifat empiris, inilah yang membedakan antara fiksi dan non fiksi. Tokoh, peristiwa, dan tempat yang disebut-sebut dalam fiksi adalah tokoh, peristiwa, dan tempat yang bersifat imajinatif, sedangkan pada karya nonfiksi bersifat faktual.
Fiksi menurut Alternberd dan Lewis (1966: 14), dapat diartikan sebagai ”prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia”.
Dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Karya yang demkian oleh Abrams disebut sebagai fiksi historis (historical fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta sejarah, fiksi biografis (biographical fiction), dan fiksi sains (scince fiction), jika yang menjadi dasa penulisan fakta ilmu pengetahuan.
Kebenaran Fiksi. Ada perbedaan antara kebenaran dalam dunia fiksi dengan dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang, yang keabsahannya sesuai dengan pandanganya terhadap masalah hidup dan kehidupan.

2. PEMBEDAAN FIKSI

Dewasa ini, penyebutan untuk karya fiksi fiksi ini lebih ditunukan pada karya yang berbentuk prosa naratif/ teks aratif. Karya lain yang penulisannya tidak berbentuk prosa, misalnya dialog seperti dalam dama atau sandiwara, termasuk skenario dalam film, juga puisi-puisi drama dan puisi balada, pada umunya tidak disebut sebagai karya fiksi.
Dalam penulisan ini istilah dan pengertian fiksi sengaja dibtasi pada karya yang berbentuk prosa, prosa naratif, atau teks naratif. Ini menunjuk pada karya yang berwujud novel, dan cerpen.novel dan cerpen (juga dengan roman) sering dicobabedakan orang, walau tentu saja hal itu lebih bersifat teoritis. Orang jjuga mencobabedakan antara novel serius dengan novel populer-yang ini lebih lagi bersifat teoritis dan tentatif.
Walau demikian, sebenarnya kita tidak dapat menyangkal bahwa karya-karya itu juga mengandung unsur rekaan


a. Novel dan Cerita Pendek

Novel dan cerpen merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus berbentuk fiksi. Novel berasal dari kata novella (Itali) yang berarti ’sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai ’ cerita pendrek dalam bentuk prosa’ (Abrams, 1981: 119). Novella dan novelle mengandung arti sesbuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan.
Perbedaan antara novel dengan cerpen yaang utama dadpat dilihat dari segi formalitas bentuk, segi panjang cerita. Cerita yang panjang sejumlah ratusan halaman tidak dapat disebut sebagai cerpen melainkan novel. (Jassin, 1961: 72) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yan kiranya tidak munngkin dilakukan untuk sebuah novel. Ada cerpen yang pendek sekali (short short story) berkisar 500-an kata; cerpen yann panjang cukupan (long short story) yang terdiri dari beberapa puluh ribu kata. Karya sastra yang disebut dengan novelet adalah karya yang lebih pendek dari pada novel, tapi lebih panjangn daripada cerpen.
Novel dan cerpen mempunyai kesamaan, keduanya dibangun oleh unsur-unsur pembangun/ unsur-unsur cerita yan sama, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Novel dan cerpen sama-sama memiliki unsur peristiwa, plot, tema, latar, sudut pandang, tokoh, dll. Namun demkian, terdapat perbedaan intensitas juga kuantitas dalam hal ”pengoprasian” unsir-unsur cerita tersebut.
Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan lebih banyak melibatkan berbagai permadalahan yang lebih kompleks. Sedangkan kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukaan secara lebih banyak-jadi secara lebih implisit dari sekedar apa yang diceritakakan. Diphak lain, kelebihan novel yang khas adalah kemampuan menyanpaikan permasalahan yang komples secara penuh.
Unsur-unsur pembangun sebuah novel, seperti plot, tema, penokohan dan latar, secara umum dapat dikatakan lebih rinci dan kompleks daripada unsur-unsur cerpen.

b. Novel Serius dan Novel Populer

Novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya kalangan remaja. Ia menampilakn masalah-masalah yang aktual dan selalu menzaman. Novel populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara lebih intens, tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan. Novel populer pada umumnya bersifat artifisial, hanya bersifa sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa prang untuk membacanya sekali lagi.
Novel serius dipihak lain, jusru ”harus” sanggup memberikan yangn serba berkemungkinan, dan itulah sebenarnya makna sastra yang sastra. Membaca novel serius jika kita ingin memahaminya dengan baik, diperlukan daya konsenrtasi yang tinggi disertai kemauan untuk itu.
Novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena ia memangn semata-mata menyampaikan cerita (Stanton,1985:2). Ia tidak berpretensi mengejar efek estetis, melainkan memberikan hiburan langsung dari aksi ceritanya.
Berhubung novel populer lebih mengejar selea pembaca, komersial. Ia tak akan menceritakan sesuatu yang bersifat serius sebab hal itu dapat berarti akan berkurangnya jumlah penggemarnya.
Novel serius tidak bersifat mengabdi kepada selera pambaca, dan memang, pembaca novel jenis ini tidak mungkin banyak. Novel-novel yang dikategorikan sebagai novel serius inilah yang selama ini banyak dibicarakan didunia kritik sastra walau ada juga kritikus yangn secara intensif membahas novel-novel pop.

3. UNSUR-UNSUR FIKSI

Unsur fiksi berikut dilakukan menurut pandangan tradisional dan diikuti pandangan menurut Santon dan Chapman.
a. Intrinsik dan Ekstrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sebdiri. Unsur yang dimaksud adalah peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut apndang pencitraan, gaya bahasa dan lain-lain.
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi sistem organisme karya sastra.
Unsur-unsur menurut Welllek dan Werren antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup yang akakn mempengaruhi karyanya.

b. Fakta, Tema, Sarana Cerita
Fakta dalam sebuah cerita meliputi karakter, plot dan seting. Ketiganya merupakan unsur fiksi yang secara faktual dapat dibayangkan peristiwanya, eksistensinya, dalam sebuah novel. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih, rindu, takut, maut, religius dan sebagainya.
Sarana pengucapan sastra, sarana kesastraan adalah teknik yang digunakan pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Macam sarana sastra yang dimaksud adalah berupa sudut pandang penciitraan, gaya bahasa dan nada, simbolisme, dan ironi.

c. Cerita dan Wacana
Cerita merupakan isi dari ekspresi naratif, sedangkan wacana merupakan merupakan bentuk dari sesuatu yang diekspresikan. Cerita terdiri dari peristiwa dan wujud keberadaannya, ekksistensinya. Peristiwa itu sendiri dapat berupa tindakan , aksi dan kejadian. Wujud eksistensinya terdiri dari tokoh dan unsur-unsur latar. Wacana merupakan sarana untuk mengungkapkan isi.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar